Standar Infrastruktur Cloud Aman untuk Melindungi Data Perusahaan

Diposting pada : 2026-09-29 | Tags :

Infrastruktur cloud aman untuk korporasi dan pelindungan data perusahaan

Keamanan menjadi salah satu faktor penting ketika perusahaan menempatkan aplikasi, database, dan data bisnis di lingkungan cloud. Bukan hanya soal mencegah akses tidak sah, perusahaan juga perlu memastikan sistem tetap tersedia, data dapat dipulihkan, serta tanggung jawab keamanan antara perusahaan dan penyedia layanan cloud telah ditetapkan dengan jelas.

Kebutuhan tersebut semakin relevan seiring berkembangnya ekosistem cloud dan data center di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut Indonesia telah memiliki 185 data center dengan kapasitas 274 MW pada 2025, menunjukkan semakin besarnya kebutuhan terhadap infrastruktur digital yang andal.

Karena itu, infrastruktur cloud aman untuk korporasi perlu dibangun dengan pendekatan berlapis. Perusahaan tidak cukup hanya melihat kapasitas server atau harga layanan, tetapi juga perlu mengevaluasi pelindungan data, identitas dan akses, keamanan jaringan, ketahanan sistem, monitoring, serta kepatuhan.

Baca Juga: Cloud Computing: Cara Kerja, Jenis, dan Keunggulannya

Standar Keamanan Infrastruktur Cloud untuk Korporasi

Keamanan infrastruktur cloud perlu dibangun melalui beberapa lapisan yang saling melengkapi. Perusahaan tidak cukup hanya memastikan data terenkripsi, tetapi juga perlu mengendalikan siapa yang dapat mengakses sistem, mengamankan jaringan, menyiapkan pemulihan ketika terjadi gangguan, serta memastikan layanan memenuhi kebutuhan ketersediaan dan kepatuhan.

Karena itu, sebelum memilih layanan cloud, beberapa standar dan aspek keamanan berikut perlu diperhatikan.

1. Pelindungan Data Harus Menjadi Prioritas

Data yang berada di cloud perlu dilindungi sepanjang siklus hidupnya, mulai dari penyimpanan, pemrosesan, pemindahan, pencadangan hingga penghapusan. Enkripsi menjadi salah satu kontrol penting untuk mengurangi risiko ketika data disimpan maupun ditransmisikan.

Namun, perusahaan juga perlu memahami bagaimana penyedia cloud mengelola data tersebut. Pertanyaan mengenai lokasi penyimpanan, mekanisme backup, retensi data, proses penghapusan, serta akses administratif perlu dijelaskan sejak awal.

Hal ini semakin penting bagi perusahaan yang memproses data pribadi. UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi mengatur antara lain pemrosesan data pribadi, kewajiban pengendali dan prosesor data pribadi, serta transfer data pribadi.

Dengan demikian, keamanan cloud perlu dilihat tidak hanya dari sisi teknologi, tetapi juga dari bagaimana pengelolaan data dilakukan sesuai kewajiban perusahaan.

2. Kelola Identitas dan Hak Akses Secara Ketat

Salah satu risiko dalam lingkungan cloud adalah akses yang terlalu luas. Pengguna, administrator, aplikasi, dan pihak ketiga seharusnya hanya memperoleh akses terhadap resource yang memang diperlukan.

Pendekatan Identity and Access Management (IAM) dapat digunakan untuk mengatur identitas, autentikasi, otorisasi, dan hak akses. Prinsip least privilege penting diterapkan agar akun tidak memiliki kewenangan lebih besar daripada kebutuhan pekerjaannya.

Perusahaan juga perlu mempertimbangkan autentikasi multifaktor, pengelolaan akun administrator, rotasi kredensial, serta peninjauan hak akses secara berkala. Ketika seorang karyawan berpindah jabatan atau tidak lagi membutuhkan akses tertentu, hak tersebut harus segera disesuaikan.

3. Bangun Keamanan Jaringan Berlapis

Cloud menghubungkan berbagai komponen, mulai dari pengguna, aplikasi, database hingga sistem perusahaan yang masih berada di lingkungan on-premise. Karena itu, jaringan menjadi salah satu lapisan penting dalam pelindungan infrastruktur.

Firewall, segmentasi jaringan, pengamanan koneksi, pembatasan akses berdasarkan sumber trafik, serta monitoring aktivitas jaringan dapat membantu memperkecil permukaan serangan.

Untuk sistem dengan tingkat sensitivitas tinggi, perusahaan juga perlu mempertimbangkan pemisahan lingkungan produksi, pengembangan, dan pengujian. Dengan segmentasi yang tepat, gangguan pada satu lingkungan tidak otomatis memberikan akses ke seluruh resource.

4. Pastikan Ada Backup dan Disaster Recovery

Keamanan tidak hanya berkaitan dengan mencegah serangan. Kemampuan untuk memulihkan sistem ketika terjadi gangguan juga merupakan bagian dari ketahanan infrastruktur.

Perusahaan perlu mengetahui bagaimana backup dilakukan, seberapa sering data dicadangkan, berapa lama backup disimpan, serta apakah backup berada pada lingkungan yang terpisah. Uji pemulihan juga penting untuk memastikan backup benar-benar dapat digunakan ketika dibutuhkan.

Kebutuhan tersebut perlu diterjemahkan ke dalam Recovery Point Objective (RPO) dan Recovery Time Objective (RTO). RPO membantu menentukan seberapa banyak kehilangan data yang masih dapat ditoleransi, sementara RTO menentukan target waktu pemulihan layanan.

Untuk aplikasi yang sangat kritis, perusahaan dapat membutuhkan arsitektur dengan redundansi dan lokasi pemulihan yang berbeda agar gangguan pada satu komponen tidak langsung menghentikan seluruh operasional.

5. Terapkan Monitoring dan Logging

Perusahaan perlu memiliki visibilitas terhadap apa yang terjadi di dalam lingkungan cloud. Monitoring dapat memberikan informasi mengenai kesehatan infrastruktur, performa aplikasi, kapasitas resource, dan potensi gangguan.

Sementara itu, logging mencatat aktivitas tertentu seperti login, perubahan konfigurasi, penggunaan hak administrator, maupun aktivitas pada resource tertentu. Log tersebut dapat membantu ketika perusahaan melakukan investigasi terhadap insiden keamanan.

Yang tidak kalah penting adalah memastikan log dilindungi dari perubahan yang tidak sah dan disimpan sesuai kebutuhan perusahaan. Dengan begitu, data log dapat menjadi bagian dari proses audit maupun investigasi ketika terjadi insiden.

6. Evaluasi Ketersediaan dan Ketahanan Infrastruktur

Cloud untuk kebutuhan korporasi harus mampu mendukung kontinuitas operasional. Karena itu, perusahaan perlu melihat bagaimana penyedia layanan membangun redundansi pada server, storage, jaringan, listrik, serta komponen data center lainnya.

Service Level Agreement (SLA) juga perlu diperiksa secara detail. Jangan hanya melihat angka availability, tetapi pahami cakupan layanan, pengecualian, mekanisme pengukuran, serta bentuk kompensasi apabila komitmen layanan tidak terpenuhi.

Ketersediaan juga perlu disesuaikan dengan tingkat kritikalitas aplikasi. Sistem transaksi utama tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dibandingkan aplikasi internal yang tidak digunakan sepanjang waktu.

7. Perhatikan Standar dan Sertifikasi Keamanan Cloud

Standar keamanan dapat menjadi salah satu referensi ketika perusahaan mengevaluasi penyedia cloud. Salah satu perkembangan terbaru adalah terbitnya ISO/IEC 27017:2026 pada Juli 2026.

Standar ini memberikan panduan dan kontrol keamanan khusus untuk layanan cloud, termasuk memperjelas pembagian tanggung jawab keamanan antara penyedia dan pelanggan cloud. Standar tersebut berlaku untuk berbagai model cloud, termasuk public, private, dan hybrid cloud.

Perusahaan juga dapat meminta informasi mengenai sertifikasi keamanan yang dimiliki penyedia serta ruang lingkup sertifikasi tersebut. Hal ini penting karena sertifikasi tidak otomatis berarti seluruh lingkungan dan layanan perusahaan tercakup.

Yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian antara standar yang digunakan penyedia dengan risiko, kebutuhan bisnis, dan kewajiban regulasi perusahaan.

8. Pastikan Lokasi dan Tata Kelola Data Jelas

Lokasi infrastruktur menjadi pertimbangan penting, khususnya bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan regulasi tertentu. Perusahaan perlu mengetahui di mana data disimpan, bagaimana data ditransfer, dan apakah terdapat ketentuan khusus terkait pemrosesan atau perpindahan data.

Konteks regulasi Indonesia juga terus berkembang. Misalnya, Permen Komdigi No. 5 Tahun 2025 tentang Penyelenggara Sistem Elektronik Lingkup Publik mengatur klasifikasi data berdasarkan risiko dan pemanfaatan layanan komputasi awan untuk PSE lingkup publik.

Walaupun ketentuan tersebut secara khusus mengatur PSE lingkup publik, perkembangannya menunjukkan bahwa aspek klasifikasi data, keamanan, lokasi infrastruktur, dan tata kelola cloud semakin penting dalam pengelolaan sistem digital di Indonesia.

Baca Juga: Apa Itu Cloud Computing Telkom? Solusi Cloud untuk Bisnis Modern

Memilih dan Membangun Infrastruktur Cloud Aman untuk Korporasi

Infrastruktur cloud aman untuk korporasi sebaiknya dipilih berdasarkan kebutuhan bisnis, bukan hanya spesifikasi teknis yang ditawarkan penyedia. Perusahaan perlu mengidentifikasi data dan aplikasi yang akan ditempatkan di cloud, tingkat kritikalitas masing-masing workload, kebutuhan akses, target availability, serta kewajiban regulasi yang berlaku.

Dari kebutuhan tersebut, perusahaan dapat mengevaluasi kemampuan penyedia dalam menyediakan keamanan data, IAM, network security, backup, disaster recovery, monitoring, SLA, dukungan teknis, serta tata kelola data. Evaluasi ini membantu memastikan infrastruktur yang dipilih tidak hanya memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan bisnis dalam jangka panjang.

Hal lain yang perlu diperjelas adalah shared responsibility. Keamanan cloud bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penyedia. ISO/IEC 27017:2026 secara khusus menyoroti pentingnya pembagian tanggung jawab antara cloud service provider dan cloud service customer. Artinya, perusahaan tetap memiliki tanggung jawab terhadap aspek tertentu seperti konfigurasi akses, keamanan akun, pengelolaan data, dan penggunaan layanan secara benar, sementara penyedia bertanggung jawab atas bagian infrastruktur yang berada dalam lingkup layanannya.

Karena itu, memilih infrastruktur cloud perlu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan, tata kelola, ketersediaan, dan kesiapan penyedia secara menyeluruh. Untuk mendukung kebutuhan infrastruktur digital perusahaan, MyTenS menyediakan Data & Cloud Services yang mencakup solusi data center dan cloud sesuai kebutuhan bisnis.

Baca Juga: Kenapa Cloud Computing Penting untuk Perusahaan Besar?